Lagi-lagi aku tidak bisa tidur, padahal sudah lewat tengah malam dan besok pagi masih ada undangan rapat yang perlu aku hadiri. Ah sudah lah, toh besok pagi ibuku tetap membangunkanku.
Aku beranjak dari tempat tidurku yang berantakan. Ku ambil bungkus rokok diatas meja yang berdekatan dengan laptop yang baru saja aku matikan setelah membuat laporan pertanggungjawaban proyek padat karya. Ku genggam gudang garam surya isi 12 yang kubeli tadi siang sekarang hanya tinggal 2 batang saja.
Aku mengambil kursi lipat yang kemudian aku letakkan dekat dengan jendela kamar. Sembari duduk, rokok ku ambil lalu kuletakkan di mulutku, korek api merk zippo dengan suara dentingan khasnya langsung menyulut tanpa kompromi.
Ketika Kuhisap dalam-dalam sambil menikmatinya tak terasa pikiranku entah sampai kemana. Mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang sampai sekarang terkadang masih terpikirkan. Ah seandainya saja..
Aku teringat sebuah status whatsapp dari seorang perempuan yang dulu pernah bersama. Sebuah story yang menunjukkan seorang bayi mungil menandakan bahwa dia baru saja melahirkan seorang anak.
Entahlah terasa aneh ketika melihat itu, ada perasaan campur aduk yang mungkin tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Kalau anak sekarang sepertinya menyebutnya sebagai gamon (gagal move on).
Pikiranku masih membayangkan seandainya waktu itu kita tidak berpisah apakah kita akan tetap bersama? Seharusnya akulah yang ada disana bukan orang lain yang bahkan aku tidak mengenalnya. Seharusnya itu adalah story yang menunjukkan kalau itu adalah anakku denganmu bukan dengan dengan yang lain.
Pertanyaan yang seharusnya sudah tidak lagi perlu ditanyakan itu masih saja menghantuiku. Namun aku juga menyadari satu hal. Apakah jika masih bersamaku dirimu akan bahagia? Apakah jika bersama diriku kamu akan tetap mencapai cita-cita yang dulu pernah kau ceritakan?
Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya saja jika seandainya waktu bisa diulang kembali mungkin aku akan memperbaiki banyak hal. Memang diantara kita berdua tidak ada kesalahan. Tapi entah kenapa saat itu kita rela melepas masing-masing untuk masa depan yang bahkan kita tidak tahu. Ataukah kita memang takut dengan masa depan yang tidak pasti itu?
Aku juga tidak tahu. Tapi satu hal yang perlu aku perjelas bahwa disini aku masih mencintaimu meskipun aku tahu dirimu sudah tidak akan pernah kembali padaku. Dan Ini semua masih tentangmu.